Jumat, 26 Januari 2018

Kau Hadir Tanpa Aku Memintanya


Aku tak pernah meminta siapapun hadir dalam kehidupanku, tapi tuhan menggerakkan hati untuk mengenalmu.

AKu tak pernah meminta kau mau mengenalku, cukup aku saja yang memiliki rasa penasaran dalam hatiku.

Aku selalu takut akan kehadiran sebuah rasa, meski aku tak pernah menolaknya. Aku takut rasa ini menjadi sebuah cinta yang membuatku terperangkap dalam kegelisahan.

Kau tau, aku sudah tak ingin percaya dengan cinta. Aku sudah tak ingin mengenal cinta lagi.

Tapi kau hadir merobek segalanaya, mencabik rasa benciku terhadap cinta. Fikiranku mencaci maki hatiku yang tak mampu menjaga rasanya.

Aku sudah mencoba menghapusmu, namaun setiap kali fikiranku hendak seperti itu. Hati memberontak dan menikam, hatiku melukai dirinya sendiri.

Aku mengalah dan mengikuti apa yang akan dilakukan oleh hati. Rencana yang tak pernah di setujui oleh fikiranku yang selalu bilang, "Selain janji Cinta itu hanyalah sebuah omong kosong".

Aku mengangguk dan membenarkannya, karena itulah cinta yang sebenarnya. Yang membuat aku tak pernah ingin mengenal namanya cinta lagi.

Tapi hati selalu bersikeras "mungkin selama ini kalian benar, tapi hari ini aku merasakan yang beda darinya"

Sesuatu yang aku takutkan kini terjadi, rasa yang biasa tadi menjadi sebuah cinta yang membuat lemah hati.

Yang membuatnya lupa diri, yang membuatnya tak lagi percaya dengan logika sendiri.

Cinta itu menakutkan, benar benar menakutkan. Meski aku tak pernah memintanya hadir namun dengan sendirinya dia datang.

Itu bukan aku, tapi hati yang menggerakan aku. Yang menggerakan jemari untuk say hai kepadamu.

Aku dan fikiranku malu, malu dengan apa yang sudah kami janjikan. Bahwa kami tidak akan pernah mau mengenal cinta lagi sebelum kami setuju dialah tulang rusukku.

Tapi hari ini aku tetap mengikutinya, mengikuti arah hati kemana dia pergi. Aku akan berusaha membuatnya nyaman meski aku bingung apa yang sedang hati ini rasakan.

Yang pasti aku tak pernah memintamu hadir, aku tak pernah mengharapkanmu hadir dalam kehidupanku. Akupun tak pernah ingin hadir dalam kehidupanmu, yang merusak harimu.

Ini semua mau hati, dan Tuhan yang menggerakkan semuanya. Maafkan aku yang tak mampu menjaga hati ini lagi untuk tetap keras, kini dia sudah mulai lunak oleh cinta dan omong kosong.

Aku dan Kesendirianku


Kau tau rasanya sepi?
Mungkin untuk orang lain sepi itu hal yang menjijikan, sepi itu hal yang menakutkan. Tapi tidak untuk aku yang selalu menikmatinya.

Aku selalu merasakan bahagia ketika sepi hadir menyelimuti. Didalam sepi aku bisa menjadi diri sendiri.

Aku tak harus berpura-pura menjadi siapapun, didalam sepi aku mampu bebas berekspresi.

Sepi bukan berarti aku sendiri, ya.. aku tidak pernah merasa sendiri. Karena aku yang lain selalu menemani.

Mereka hadir dalam kesendirianku, di dalam ruang yang redup sedikit cahaya tanpa bayangan aku bicara dengan diriku yang lain.

Karena diruang kesendirian aku hidup dan menjadi diriku sendiri. Akau akan berubah 180 derajat dari apa yang orang lain lihat.

Diruang redup ini aku bebas mengekspresikan diri seperti apa mau hatiku sendiri.

Dikamarku yang redup ini, dunia kecil selalu tercipta tanpa batas, yang tak akan pernah di pahami manusia lain.

Dikamarku yang redup ini pula aku menjadi aku yang lain, di dalamnya ada kesedihan, kebahagiaan, rasa sepi yang hanya aku bisa merasakannya.

Dikamarku yang tanpa bayang ini aku bebas berbicara dengan aku yang lain, yang selalu memberikank kalimat semangat dan ide-ide dalam fikiranku.

Kesendirian adalah obat bagiku, obat lelah dimana aku selalu terperangkap didalam keramaian yang penuh dengan drama dan kebohongan.

Didalam kesendirian aku mampu berdiri dari setiap kekalahan. Aku selalu menikmatinya, menikmati rasa kesepian.